Daftar
314350_123608111079520_313355781_n.jpg

Pemisahan Galuh terjadi sejak jaman Wretikandayun yang berkuasa pada 534 Saka (612 M) sampai dengan 702 M, pada saat itu di Tarumanagara sudah mendekati akhir hayatnya dan malih rupa menjadi kerajaan Sunda (pura) yang diperintah oleh Terusbawa.

Wretikandayun menggantikan posisi Sang Kandiawan, ayahnya. Kemudian Wretikandayun memindahkan pusat pemerintahannya kedaerah baru yang terletak di Karang Kamulyaan Ciamis. Lokasi tersebut berada ditengah-tengah dua sungai, yakni Citanduy dan Cilumur, yang ia beri nama Galuh (permata).

Sangat sulit dianalisa tentang alasan Galuh Kendan memisahkan diri, apakah karena Kendan sudah merasa besar dan memiliki kekuatan yang seimbang dengan Tarumanagara, atau karena menganggap tidak ada lagi ikatan emosional antara Tarumanagara yang berubah menjadi Sundapura dengan Galuh. Namun alasan yang terakhir banyak disebut-sebut sebagai trigger-nya, sedangkan alasan pertama hanya dijadikan premis pelengkap.

Kondisi Tarumanagara ketika itu memang sedang menurun dan sudah kurang berwibawa dimata raja-raja daerah, disinyalir terjadi pada masa Sudawarman, Pertama, pemberian otonomi kepada raja-raja bawahan yang diberikan oleh leluhurnya tidak dijaga hubungan baik. Mungkin juga karena ia tidak menguasai persoalan Tarumanagara, Karena sejak kecil tinggal dan dibesarkan di Kanci, kawasan Palawa.

Kalaupun mampu menyelesaikan tugas pemerintahannya, hal ini disebabkan adanya kesetiaan dari pasukan Bhayangkara yang berasal dari Indraprahasta. Pasukan ini sangat setiap terhadap raja-raja Tarumanagara, mereka hanya berpikir: bagaimana menyelematkan raja. Sehingga setiap pemberontakan dapat diselesaikan dengan baik.

Kedua, pada jaman Sudawarman telah muncul kerajaan pesaing Tarumanagara yang pamornya sedang menaik. Seperti Galuh, ditenggara Jawa Barat, merupakan daerah bawahan. Selain Galuh terdapat kerajaan Kalingga di Jawa Tengah yang sudah mulai ada didalam masa keemasannya. Sedangkan di Sumatera terdapat kerajaan besar, yakni Melayu (termasuk Sriwijaya) dan Pali.

Kemerosotan pamor Tarumanagara tidak akan berakibat parah jika para penggantinya dapat bertindak arif dan mampu menikan pamor kerajaan kembali. Hingga pada setelah wafatnya Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirtabumi. Kemudian digantikan menantunya, yakni Tarusbawa dengan gelar Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manungmanggalajaya Sunda sembawa.

Tarusbawa memerintah sejak tahun 591 sampai dengan 645 saka (669 – 723 M), sebelum menjadi penguasa Tarumanagara ia menjadi raja Sundapura, raja daerah dibawah Tarumanagara.

Tarusbawa sangat menginginkan untuk mengangkat Tarumanagara kembali kemasa kejayaannya. Ia pun memimpinkan kejayaan Tarumanagara seperti jaman Purnawarman yang bersemayam di Sundapura. Dengan keinginannya tersebut ia merubah nama Kerajaan Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda (Sundapura atau Sundasembawa).

Namun tentunya sangat berbeda dengan Purnawarman, selain ia menguasai strategi peperangan dan pemerintahan, ia pun dikenal sebagai raja Tarumanagara yang full Power.

Penggantian nama kerajaan yang ia lakukan tidak dipikirkan dampaknya bagi hubungan dengan raja-raja bawahannya. Karena dengan digantinya nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda berakibat raja-raja daerah merasa tidak lagi memiliki ikatan kesejarahan, apalagi Tarusbawa bukan anak Linggawarman, melainkan seorang menantu dan bekas raja Sundapura.

Mengenai penggantian nama Tarumanagara, dimungkinkan sebagai akibat pindahnya ibukota Tarumanagara ke Sundapura, sehingga iapun mengikuti nama Ibukotanya, bukan asal kerajaannya. Karena Purnawarman pun dahulu berkedudukan di Sundapura dengan nama kerajaannya Tarumanagara.

Jika diurut sejarah raja-raja Galuh maupun Sunda keduanya masih keturunan raja Tarumanagara. Dimungkinkan Tarusbawa masih keturunan Purnawarman, karena ia raja di Sundapura, pada masa Purnawarman menjadi ibukota Tarumanagara. Namun ada juga spekulasi yang berpendapat, Tarusbawa dan leluhurnya menjadi raja Sundapura karena adanya pemberian otonomi kepada raja-raja daerah yang ditaklukan Tarumanagara pasca Purnawarman. Sedangkan Wretikandayun, raja Galuh adalah cucu dari Tirtakancana, putri raja Tarumanagara.

Tentang letak Sundapura jika dikaitkan dengan prasasti di Kampung Muara Cibungbulang dan Prasasti Kebantenan menimbulkan pertanyaan. Karena bisa ditafsirkan, bahwa perpindahan ibukota Tarumanagara dari Sundapura telah terjadi sejak masa Suryawarman. Selain itu, posisi letak prasasti Muara dahulu termasuk berada diwilayah kerajaan Pasir Muara. Bisa saja Sundapura diduga berada di wilayah Bogor, mengingat kerajaan Pajajaran, kerajaan yang terkait dduga keras terletak di Bogor, sedangkan Tarumanagara diduga keras terletak di Bekasi.

Didalam Pustaka Jawadwipa diterangkan mengenai lokasi Sundapura, :

“Telas karuhun wis hana ngaran deca Sunda tathapi ri sawaka ning tajyua Taruma. Tekwan ring usana kangken ngaran kitha Sundapura. Iti ngaran purwaprastawa saking Bratanagari”

[dahulu telah ada nama daerah Sunda tetapi menjadi bawahan kerajaan Taruma. Pada masa lalu diberi nama Sundapura. Nama ini berasal dari negeri Bharata].

Keinginan melepaskan diri dari Sundapura dicetuskan oleh Wretikandayun, penguasa Galuh bukan seuatu yang muskil untuk dilaksanakan, mengingat Galuh telah merasa cukup kuat untuk melawan Tarumanagara, karena memiliki hubungan sangat baik dengan Kalingga, dari cara menikahkan Mandiminyak, putranya dengan Cucu Ratu Sima. Keinginan tersebut ia sampaikan melalui surat.

Isi surat dimaksud intinya memenjelaskan, bahwa : Galuh bersama kerajaan lain yang berada di sebelah Timur Citarum tidak lagi tunduk kepada Tarumanagara dan tidak lagi mengakui raja Tarumanagara sebagai ratu. Tetapi hubungan persahabatan tidak perlu terputus, bahkan diharapkan dapat lebih akrab. Wretikandayun memberikan ultimatum pula, bahwa Tarumanagara janganlah menyerang Galuh Pakuan, sebab angkatan perang Galuh tiga kali lipat dari angakatan perang Tarumanagara, dan memilki senjata yang lengkap. Selain itu Galuh juga memiliki bersahabat baik dengan kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang siap memberikan bantuan kepada Galuh kapan saja.

Permintaan untuk memisahkan diri tersebut tidak akan dikabulkan, namun apabila terjadi peperangan maka berdasarkan perhitungan Tarusbawa pasukan Tarumanagara yang ada saat ini dibandingkan pasukan Galuh masih seimbang, sehingga sulit untuk memenangkan peperangan. Tarusbawa juga termasuk raja yang visioner dan cinta damai. Ia memilih mengelola setengah kerajaan dengan baik dibandingkan mengelola seluruh kerajaan dalam keadaan lemah.

Pada kisah berikutnya, Tarusbawa menerima tuntutan Wretikandayun. Ia merelakan kerajaan terpecah menjadi dua. Dengan menggunakan Citarum sebagai batas negara.

Dalam tahun 670 M, berakhirlah kisah Tarumanagara sebagai kerajaan yang menguasai seluruh Jawa Barat. Namun muncul dua kerajaan kembar. Disebelah barat Citarum menjadi kerajaan Sundapura, sedangkan disebelah timur Citarum berdiri kerajaan Galuh.

 Berikut adalah nama-nama raja sejak menjelang hingga berahirnya Tarumanagara :

  • SANG RESIGURU / MANIKMAYA                            (526 568)     Kerajaan Kendan Nagreg

Pendiri Kerajaan Kendan (Kerajaan Agama) Menantu Suryawarman (Raja Tarumanegara)

  • RAJAPUTRA / SURALIM                                        (568 597)     Kerajaan Kendan Nagreg

  • SANG KANDIAWAN / RAJARESI / RAHIYANGTA     (597 612)     Kerajaan Medangjati Kuningan,

Yang kemudian menjadi Pertapadi Layungwatang (daerah Kuningan) 

  • WRETIKANDAYUN                                                  (612 – 702)     Kerajaan Galuh.

Dikenal sebagai raja Galuh pertama bahkan dianggap pendiri Galuh pasca Kendan, wafat 702 M dalam usia 111 tahun.

Dalam tahun 670 M  Tarumanagara berahir sebagai kerajaan yang menguasai seluruh Jawa Barat. Namun muncul dua kerajaan kembar. Disebelah Barat Citarum menjadi kerajaan Sundapura, sedangkan disebelah Timur Citarum berdiri kerajaan Galuh. Kedua kerajaan tersebut dimasa berikutnya disebut juga Sunda Pajajaran dan Sunda Galuh.

  • AMARA bergelar  MANDIMINYAK                          (702 709)     Kerajaan Galuh

Wretikandayun mengangkat  Amara, putra bungsunya sebagai putra Mahkota, dengan gelar Mandiminyak

  • SENA / BRATASENAWA                                         (709 – 716)     Kerajaan Galuh

Sena (Sang Salah) adalah  putra Mandiminyak  dari hasil hubungannya dengan Nay Pwahaci Rababu.

  • PURBASORA                                                         (716 723)     Kerajaan Galuh

Karena merasa punya hak mahkota dari Sempakwaja, Purbasora merebut kekuasaan Galuh dari Sena 

  • SANJAYA                                                               (723 732)     Kerajaan Sunda - Galuh

Saat Tarusbawa meninggal tahun 723, kekuasaan Sunda dan Galuh berada di tangan Sanjaya.

Di tangan Sanjaya, Sunda dan Galuh bersatu kembali. Sanjaya / Rakryan Jambri adalah putera Sena dari Sannaha puterinya Mandiminyak dengan demikian ia merupakan penerus Kerajaan Galuh yang sah, yang kemudian dengan bantuan Tarusbawa menyerang Galuh. Penyerangan ini bertujuan untuk melengserkan Purbasora

  • SANJAYA                                                               (732 754)     Kerajaan Galuh Kalingga Bojong Karangkamulyan

Sanjaya memegang kekuasaan di Kalingga selama 22 tahun (732 – 754)

  • RARKYAN PANARABAN / TAMPERAN                     (732 739)     Kerajaan Sunda - Galuh

Tahun 732, Sanjaya menyerahkan kekuasaan Sunda-Galuh kepada puteranya Rarkyan  Panaraban (Tamperan)

Rarkyan Panaraban berkuasa di Sunda-Galuh selama tujuh tahun (732-739), lalu membagi kekuasaan pada dua puteranya; Sang Manarah (yang dalam carita rakyat disebut Ciung Wanara) di Galuh, serta Sang Banga (Hariang Banga) di Sunda

  • SANG MANARAH / CIUNG WANARA                       (739 –   ? )     Kerajaan Galuh

  • PRABHU GILINGWESI

Karena anaknya perempuan, Rakryan Medang mewariskan kekuasaanya kepada menantunya, Rakryan Hujungkulon atau Prabhu Gilingwesi dari Galuh, yang menguasai Sunda selama 12 tahun (783-795).

  • SANG WELENGAN                                                  (806 813)     Kerajaan Galuh

  • SANG PRABHU LINGGABHUMI                               (813 842)     Kerajaan Galuh

Rakryan Diwus (dengan gelar Prabu Pucukbhumi Dharmeswara) yang berkuasa di Sunda  selama 24 tahun (795-819). Dan ketika kekuasaan Sunda jatuh ke puteranya, Rakryan Wuwus, yang menikah dengan putera dari Sang Welengan (raja Galuh, 806-813). Kekuasaan Galuh juga jatuh kepadanya saat saudara iparnya, Sang Prabhu Linggabhumi (813-842), meninggal dunia. Kekuasaan Sunda-Galuh dipegang oleh Rakryan Wuwus (dengan gelar Prabhu Gajahkulon) sampai ia wafat tahun 891.

 

 Sungai Citarum Pembatas antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh


Sungai Citarum Pembatas antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh

Dari uraian terdahulu maka kita ketahui bahwa Kerajaan Galuh  adalah suatu kerajaan Sunda di pulau Jawa, yang wilayahnya  terletak  antara Sungai Citarum di sebelah barat dan Sungai Cipamali di sebelah timur. Kerajaan ini adalah penerus kerajaan Kendan, bawahan Tarumanagara.

Sejarah mengenai Kerajaan Galuh ada pada naskah kuno  Carita Parahiyangan, suatu naskah yang berbahasa Sunda, ditulis pada awal abad ke-16. Dalam naskah tersebut, ceritera mengenai Kerajaan Galuh dimulai waktu Rahiyangta ri Medangjati yang menjadi raja resi selama lima belas tahun. Sebagaimana yang telah di ceriterakan di awal, selanjutnya kekuasaan ini diwariskan kepada putranya di Galuh yaitu Sang Wretikandayun.

Saat Linggawarman, raja Tarumanagara yang berkuasa dari tahun 666  meninggal dunia di tahun 669, kekuasaan Tarumanagara jatuh ke Tarusbawa dengan gelar Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manungmanggalajaya Sundasembawa, menantunya dari Sundapura, salah satu wilayah di bawah Tarumanagara. Karena Tarusbawa memindahkan kekuasaan Tarumanagara ke Sundapura, pihak Galuh, dipimpin oleh Wretikandayun (berkuasa dari tahun 612), memilih untuk berdiri sebagai kerajaan mandiri. Adapun untuk berbagi wilayah, Galuh dan Sunda sepakat menjadikan Sungai Citarum  sebagai batasnya.

 

KERAJAAN KEMBAR

Wretikandayun punya tiga anak lelaki: Rahiyang Sempakwaja (menjadi resiguru di Galunggung), Rahiyang Kidul (jadi resi di Denuh), dan Rahiyang Mandiminyak. Setelah menguasai Galuh selama sembilan puluh tahun (612-702), Wretikandayun diganti oleh Rahiyang Mandiminyak, putra bungsunya, sebab kedua kakaknya menjadi resiguru.

Dari Nay Pwahaci Rababu, Sempakwaja mempunyai dua anak: Demunawan dan Purbasora. Akibat tergoda oleh kecantikan iparnya, Mandiminyak sampai terseret ke perbuatan nista, sampai melahirkan Sena (atau Sang Salah). Sedangkan dari istrinya, Dewi Parwati, putra dari Ratu Sima dan Raja Kartikeyasingha, Mandiminyak mempunyai putra perempuan yang bernama Sannaha. Sannaha dan Sena lantas menikah, dan mempunyai putra yang bernama Rakryan Jambri (atau disebut Sanjaya).

Kakuasaan Galuh yang diwariskan pada Mandiminyak (702-709), kemudian diteruskan oleh Sena. Karena merasa punya hak mahkota dari Sempakwaja, Demunawan dan Purbasora merebut kekuasaan Galuh dari Sena (tahun 716). Akibat terusir, Sena dan keluarganya lantas mengungsi ke Marapi di sebelah timur, dan menikah dengan Dewi Citrakirana, putra dari Sang Resi Padmahariwangsa, raja Indraprahasta.

Dengan demikian diketahui bahwa nama Galuh sudah dikenal sebagai nama kerajaan sejak awal abad ke-8, yang diabadikan dalam Prasasti Canggal yang berangka tahun 732 Masehi menyebut nama Sanjaya sebagai Raja yang berkuasa di Galuh, yang wilayah kekuasaannya berpusat di Priangan Timur sekarang. Selanjutnya, pusat kerajaan berpindah-pindah ke Kawali, kemudian ke Pakuan Pajajaran (Bogor sekarang) dengan nama Kerajaan Sunda , dan berjaya sepanjang delapan abad hingga berakhir tahun 1579.

Kerajaan Galuh inilah kerajaan yang berjaya paling lama di seluruh Nusantara. Ketika pusat kerajaan berpindah – pindah, di Galuh sendiri tetap ada raja yang memerintah dan 1535 – 1579 Prabu Haur Kuning saat itu yang sedang berkuasa di Galuh dan ketika Kerajaan Sunda runtuh tahun 1579, di Galuh masih memerintah Maharaja Cipta Permana alias Prabu Cipta Sanghiang di Galuh, putra Prabu Haur Kuning. Ketika Prabu Cipta wafat, putranya yaitu Prabu Galuh Cipta Permana menggantikan kedudukannya di Gara Tengah.

Pengunjung
8
Artikel
17
Tautan Web
7
Jumlah Tampilan Artikel
24085

Kami memiliki 3 tamu dan tidak ada anggota online